Strategy and Struggle Of Street Vendors In Pasar Pagi Distric Of Samarinda

Strategi dan Perjuangan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kelurahan Pasar Pagi Kota Samarinda

  • Rossy Capriati
  • Purwaningsih Purwaningsih
Keywords: Strategy and Struggle, Street Vendors, Pasar Pagi Samarinda

Abstract

ABSTRACT:

Strategies and Struggles of Street Vendors in Pasar Pagi Village, Samarinda City. This thesis stems from my curiosity about the reasons these actors choose street vendors as their realm of work. As well as regarding field practices and competition between fellow business actors from relatively small to relatively large capital. Practices in the field of actors in the realm of business do not only rely on material capital but also on social capital, cultural capital, and symbolic capital as a form of strategy for the actors to maintain their business. Street vendors, as businessmen with relatively small capital, are not only competing with fellow street vendors, but also with large capital owners. The strategy used by street vendors is to collect capital and convert their capital even though their capital is relatively small. There are various forms of capital and habitus that are owned by street vendors. This is all as a support for the actors to be able to continue to survive in this realm. The street vendor is a practice from the flow of life that is not on their side. The minimal material capital and the exclusion of these actors with large investors make them more struggling and have a strategy to be able to maintain their business.

ABSTRAK:

Strategi dan Perjuangan Pedagang Kaki Lima di Kelurahan Pasar Pagi Kota Samarinda. Skripsi ini bermula dari rasa ingin tahu saya tentang alasan para aktor ini memilih pedagang kaki lima sebagai ranah pekerjaan yang mereka jalani. Serta tentang praktik lapangan dan persaingan antara sesama pelaku bisnis dari yang bermodalkan relatif kecil sampai yang bermodalkan relatif besar. Praktik di lapangan para pelaku di ranah bisnis nyatanya bukan hanya mengandalkan modal material saja melainkan juga modal social, modal budaya dan modal simbolik sebagai bentuk strategi para actor dalam mempertahankan usahanya. Pedagang kaki lima sebagai pelaku bisnis yang bermodalkan relative kecil nyatanya bukan hanya bersaing dengan sesame pedagang kaki lima akan tetapi juga dengan para pemilik modal-modal besar. Strategi yang digunakan para pedagang kaki lima dari mengumpulkan modal dan mengkonversikan modal mereka lakoni walupun modal mereka relatf kecil. Bentuk variasai-variasi modal dan habitus yang dimiliki oleh pedagang kaki lima beraneka ragam. Ini semua sebagai penunjang para aktor untuk dapat terus bertahan dalam ranah ini. Pedagang kaki lima merupakan praktik dari arus kehidupan yang tidak memihak kepada mereka. Modal material yang minim serta tersisihkannya para aktor ini dengan para pemodal besar membuat mereka lebih berjuang dan memiliki strategi untuk dapat mempertahankan usaha mereka.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alisjahbana. 2005. Marginalisasi Sektor Informal Perkotaan. Yogyakarta. ITS Press.

Alisjahbana. 2005. Sisi Gelap Perkembangan Kota. Yogyakarta. LaksBang Pressindo

Bagus. 2005. (Habitus x modal) + Ranah = Praktik. Bandung. Jalasutra. Manning, Chris dan Tadjuddin Noer Effendi. 1996. Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor Informal di Kota. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. BASIS, 2003, Edisi Khusus Pierre Bourdieu, November-Desember 2003
Published
2020-01-02
How to Cite
Capriati, R., & Purwaningsih, P. (2020). Strategy and Struggle Of Street Vendors In Pasar Pagi Distric Of Samarinda: Strategi dan Perjuangan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kelurahan Pasar Pagi Kota Samarinda. Progress In Social Development, 1(1), 1-8. https://doi.org/10.30872/psd.v1i1.13