Peran Komunitas Hindu Dalam Menjaga Ekosistem Gunung Pengsong Melalui Pengelolaan Lingkungan Berbasis Spiritualitas
Abstract
Gunung Pengsong dikenal sebagai kawasan suci umat Hindu sekaligus ruang ekologis yang memiliki fungsi penting bagi keseimbangan lingkungan di Lombok Barat. Menariknya, praktik pelestarian lingkungan di kawasan ini tidak hanya dijalankan melalui kebijakan formal pemerintah, tetapi juga melalui ajaran agama dan aturan adat yang hidup di tengah komunitas Hindu setempat. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji peran komunitas Hindu dalam menjaga ekosistem Gunung Pengsong melalui pengelolaan lingkungan berbasis spiritualitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan sumber data primer berupa wawancara dengan tokoh agama Hindu, tokoh adat, dan warga yang terlibat langsung dalam aktivitas keagamaan dan sosial di kawasan Gunung Pengsong. Data juga diperoleh melalui observasi kegiatan ritual, gotong royong, serta telaah dokumen seperti awig-awig dan kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Lombok Barat. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan menekankan pada hubungan antara praktik keagamaan, struktur adat, dan tindakan ekologis masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran Hindu dengan konsep Tri Hita Karana berperan sebagai landasan etis yang membentuk kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kebersihan dan melindungi flora fauna, serta membatasi eksploitasi lingkungan di kawasan Gunung Pengsong. Praktik ritual, hukum adat, dan gotong royong menjadi instrumen utama pelestarian ekosistem yang dijalankan secara partisipatif. Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan berbasis spiritualitas dan komunitas lokal memiliki kontribusi penting sebagai model konservasi alternatif yang berkelanjutan dan kontekstual, sehingga membuka ruang bagi penelitian lanjutan mengenai integrasi agama, adat, dan kebijakan lingkungan di wilayah lain.
Downloads
References
Ainia, D. K., & Lasiyo, L. (2024). Peran Ecospirituality dalam Etika Lingkungan untuk Menghadapi Krisis Perubahan Iklim. Scientia: Jurnal Hasil Penelitian, 9(2), 62–72.
Amri, U. (2012). Konservasi Berbasis Komunitas Religi: Membedah Peran Ormas Keagamaan Dalam Upaya Melestarikan Sumber Daya Alam Di Indonesia. Masyarakat Indonesia, 38(1), 23–46.
Arifin, S. (2025). Ekoteologi Pesantren: Sinergi Fatwa MUI No. 86/2023 dan Kepemimpinan Kiai dalam Membangun Perilaku Ekologis Santri. Jurnal Pemuliaan Lingkungan Hidup Dan Sumber Daya Alam, 2(02).
As’ ad, A. ad, Fridiyanto, F., Basuki, F. R., Suryanti, K., & Rahma, S. (2021). Konservasi lingkungan berbasis kearifan lokal di Lubuk Beringin dalam perspektif agama, manajemen, dan sains. Kontekstualita, 36(01), 89–108.
BPS. (2024). Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2024. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/publication/2024/11/29/f24c83748852c605dd2c73cb/environment-statistics-of-indonesia-2024.html
Budhawati, N. P. S. (2022). Strategi Melestarikan Kesakralan Pura Di Tengah Pengembangan Pariwisata Budaya Di Lombok. Paryaṭaka Jurnal Pariwisata Budaya Dan Keagamaan, 1(1), 53–62.
Cambah, T. M. (2022). Alam Adalah Keluarga: Internalisasi Nilai-Nilai Ekologis Dalam Ritual Nahunan Suku Dayak Ngaju. Jurnal Ilmu Lingkungan, 20(2), 210–218.
Daroini, A. S., Anna, D. N., & Thofhani, L. N. A. (n.d.). Harmonisasi Harmonisasi Manusia dengan Alam pada Praktik Ekologi Masyarakat Pesisir Paciran. Mukaddimah: Jurnal Studi Islam, 10(2), 450–465.
Diantika, P., & Utami, N. (2022). Lontar Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul (Kajian Pendidikan Lingkungan). Dharma Sastra: Jurnal Penelitian Bahasa Dan Sastra Daerah, 2(2), 192–202.
DISBUD. (2021). AWIG-AWIG. Dinas Kebudayaan. https://disbud.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/97-awig-awig#:~:text=Dengan demikian awig-awig merupakan,di dalam masyarakat Desa Adat.
Ditjen Bimas Hindu. (2026). Penguatan Ekoteologi dalam Green Dharma Agama Hindu. Kementerian Agama Republik Indonesia. https://bimashindu.kemenag.go.id/dharma-wacana/penguatan-ekoteologi-dalam-green-dharma-agama-hindu-0zISS
Gaduh, A. W., & Harsananda, H. (2021). Teo-ekologi hindu dalam teks lontar Sri Purana Tatwa. Kamaya: Jurnal Ilmu Agama, 4(3), 426–441.
Hidayat, A. (2025). Strategi Komunikasi dan Keterlibatan Masyarakat dalam Konservasi Mangrove di Jerowaru, Lombok Timur. Journal of Community Development and Empowerment, 1(3), 66–71.
Hudiyanto, R., & Lutfi, I. (2020). The meaning of village purification and worshipping water spring as A ritual to preserve the ecological sustainability of penanggungan sites East java, Indonesia. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 5(2), 376–388.
Ishak, N., & Hos, J. (2025). Dinamika Kelembagaan Lokal dan Partisipasi Warga dalam Pengembangan Ekowisata Berbasis Komunitas. PAMARENDA: Public Administration and Government Journal, 5(1), 58–70.
Jacoba, R. C. (2025). Sacred ties to ancestral land: Reclaiming indigenous practices in environmental stewardship in the Cordillera. Media: Jurnal Filsafat Dan Teologi, 6(1), 1–30.
Jawadi, F., & Rita, R. R. N. D. (2019). Studi perilaku individu jantan alfa monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di TWA Gunung Pengsong Kabupaten Lombok Barat. Jurnal Silva Samalas, 2(1), 39–46.
KLHK. (2024). Kerentanan kawasan berbasis budaya dan spiritual di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan. https://www.menlhk.go.id/
Marzuki, A. (2025). Penyelesaian Konflik Tenurial Kawasan Hutan Yang Berkeadilan. Penerbit Tahta Media.
Melaku, A., Ivars, J. P., Sahle, M., & Bayable, G. (2026). Small But Significant Contributions of Urban Sacred Forests to Biodiversity Conservation and Sustainability Agendas. International Journal of Forestry Research, 2026(1), 3523893.
Moleong, L. J. (2019). Moleong,” Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi”. Bandung: Remaja Rosdakarya. PT. Remaja Rosda Karya, 58.
Muhadidsin, R., Zahra, N. F., & Taqiyuddin, H. (2026). Pendidikan Spiritualitas yang Berbasis Ekologis sebaga Upaya Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan. Karakter: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam, 3(1), 85–99.
Pecamuya, R. (2025). Transformasi Tata Kelola Masyarakat Adat: Ketahanan Komunitas dalam Menghadapi MIFEE dan Kebijakan Konservasi di Merauke. Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(4), 1343–1355.
Purnomo, P., Oktaviani, A. I., & Nugroho, I. (2018). The sacred site: The conservation based on the local people in Tengger community and its potential as ecotourism activities. Journal of Socioeconomics and Development, 1(1), 231651.
Putra, I. M. E. L., Pramuki, N. M. W. A., Purwaningrat, P. A., Diputra, G. I. S., Apsaridewi, K. I., & Arthadana, M. G. (2024). Harmoni Alam Dan Budaya: Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan Melalui Tri Hita Karana Di Desa Adat Bali. Jurnal Pengabdian Masyarakat Akademisi, 3(4), 167–173.
Putri, N. A., Sutiyo, S., Ristiani, I. Y., Supriatna, A., & Uluputty, I. (2024). Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal Pada Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptagelar. Gema Publica, 9(1), 65–82.
Rahmah, R. A., Harahap, A. R., & Hasibuan, R. P. A. (2024). Pengembangan Green Tourism Dengan Penerapan Green Financing Berbasis Kearifan Lokal Di Wilayah Kabupaten Mandailing Natal. Owner: Riset Dan Jurnal Akuntansi, 8(3), 3082–3090.
Sawir, M., Younus, M., Meiyani, E., & Kosasi, R. (2026). Local wisdom as the basis for environmental policy innovation with the practice of sea sasi and sago hamlets in Papua’s ecological governance. Discover Environment, 4(1), 72.
Simanihuruk, M. (2025). Exploring the Spiritual Meanings of Forest Conservation among Traditional Guardians in Indigenous Southeast Asian Communities. Servina: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(7), 281–288.
Sinthumule, N. I. (2022). Conservation effects of governance and management of sacred natural sites: lessons from Vhutanda in the Vhembe Region, Limpopo Province of South Africa. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(3), 1067.
Sinthumule, N. I. (2025). Sacred natural sites as other effective area-based conservation measures (OECMS) for biodiversity conservation in South Africa: Key opportunities and challenges for policy and practice. Journal for Nature Conservation, 86, 126935.
Soehadha, M. (2018). Metode Penelitian Sosial Kualitatif untuk Studi Agama (Kedua). SUKA-Press.
Sponsel, L. E. (2012). Spiritual ecology: a quiet revolution. Bloomsbury Publishing USA.
Sudarto, S., Warto, W., Sariyatun, S., & Musadad, A. A. (2024). Cultural-religious ecology masyarakat pesisir Cilacap.
Sugiyono, S. (2013). Metode penelitian kualitatif. bandung: Alfabeta. Google Scholar Alfabeta.
Suryani, K. (2024). Ritual Mecaru sebagai Upaya Harmonisasi Kosmis: Tinjauan Ekoteologi Hindu. ŚRUTI: Jurnal Agama Hindu, 5(1), 52–61.
Syahri, M., & Wibowo, A. P. (2024). Internalisasi Nilai-Nilai Agama Dalam Pendidikan Karakter Cinta Lingkungan Hidup pada Siswa (Studi Kasus pada MTs Negeri 5 Blitar). Jurnal Kewarganegaraan, 8(1), 1274–1289.
Widasni, N., Wiliantari, N. K. A., Paramitha, N. A., Ningsih, K. A., & Asih, D. A. R. (2025). Pendidikan Agama Hindu Sebagai Sarana Pembentukan Karakter dan Kesadaran Ekologis Generasi Muda. Pratyaksa: Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial Dan Humaniora, 1(4), 76–93.
Wulandari, N. P. A. D. (2024). Ritual dan identitas: Peran agama dalam pelestarian budaya Bali. Widya Dana: Jurnal Penelitian Ilmu Agama Dan Kebudayaan, 2(2), 173–182.
Zaman, M. B., & Alawiyah, S. R. (2024). Analisis Potensi Dan Dampak Kawasan Wisata Makam Kramat Godog Sunan Rohmat Suci, Garut. JIDAR: Jurnal Ilmiah Urban Desain Dan Arsitektur, 2(2), 74–78.
Zuhria, A., Rahmayanti, O. D., Nadzar, H., Febrianti, R. E., Rahmawati, S. L., Arifin, Z. A. A., Virgiawan, D. B., & Setyawan, K. G. (2025). Partisipasi masyarakat di sekitar Pura Gunung Kawi Sebatu dalam pelestarian dan identitas masyarakat Bali. Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Sosiologi, 7(2), 76–96.
Copyright (c) 2026 Lalu Nauval Ahsan Thofhani

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









